Kamis, 13 September 2012

CURHAT: UPACARA TIGA BULANAN ANAKKU...(opini pribadi)

           Tidak terasa sudah hampir memasuki usia 3 bulan bali (sikembar), yang menurut ajaran agama Hindu merupakan runtut upacara seseorang yang lahir ke dunia ini. Berikut kutipan sumber yang saya dapatkan meskipun sepenggal namun sudah paham akan tujuan dari upacara tersebut.
Upacara tiga bulanan dan otonan sebaiknya dilaksanakan tepat pada harinya, yaitu: untuk tiga bulan, pada hari ke 105 setelah kelahiran. Upacara otonan pertama setelah berumur 6 bulan kalender Bali: 6x35 hari = 210 hari setelah kelahiran. Ketika berusia 105 hari organ tubuh bayi sudah sempurna dalam arti panca indranya sudah aktif, peredaran darah dan pencernaannya sudah normal. Aktifnya panca indra membawa dampak positif dan negatif pada kesucian atman (roh). Tujuan upacara tiga bulanan adalah:
  1. Menyiapkan anak untuk waspada akan pengaruh-pengaruh panca indria.
  2. Mengucapkan terima kasih kepada kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang telah menjaga bayi sejak dalam kandungan sampai lahir yaitu: a. Nyama Bajang, dan b. Kandapat.
  3. Bayi sudah menjadi "manusia" dan boleh diberi nama dan kakinya boleh menginjak tanah.
Jika belum diupacarai tiga bulanan, ia masih "cuntaka" yaitu belum suci. Namun demikian, karena berada jauh di rantau dan juga tidak ada yang bisa membuat upacara pada hari yang tepat, maka ketika pulang ke Bali semua anak-anak diupacarai sekaligus. Ini namanya "pengecualian" lebih baik terlambat dari pada tidak. Upacaranya boleh massal hanya saja "banten peras tataban" masing-masing anak satu. Demikian juga dengan otonan pertama, atau otonan rutin yang dilaksanakan setiap 6 bulan Bali. 
           Sungguh merupakan suatu hal yang sangat penuh makna, namun permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaannya (bagi saya pribadi) adalah, harga banten yang sangan jauh dari perkiraan. Harga yang kami dapatkankan adalah 10 juta untuk banten saja, belum berisikan telur dan kelapa sebagai isin daksina dan banten, juga belum menyiapkan biaya untuk konsumsi, nampah be, dan biaya-biaya lainnya. Pertanyaannya, bisakah harga banten tersebut diringankan, apakah memang semahal itu menurut hemat saya?? Bagaimanaah nasib orang bali kedepan jika kondisi ekonomi biasa" saja hanya untuk 3 bulanan anak saja mesti menghabiskan biaya 15 juta an?? sebuah motor akan melayang, tentu tidak bijak jika yadnya ini kita laksanakan dengan tidak ikhlas, namun tentu lebih bijak lagi jika biaya yang dikeluarkan untuk upacara ini lebih masuk akal, tanpa mengurangi esensi dari pelaksanaan upacara tersebut.
BANTEN...sarana upacara yang mutlak harus ada dalam upacara Hindu di Bali....fenomenanya adalah mulai beralihnya (para pembuat banten) ini ke areal bisnis,karena keterbatasan kemampuan waktu, tenaga, dimana sarat akan kepentingan materi, meskipun tidak bisa di generalisasi  namun cenderung bergerak ke arah sana.
Setelah mendapatkan tawaran harga banten 10 juta, yang menurut saya cukup berat (padahal order banten untuk upacara yg sederhana), saya ingin mendapatkan informasi ttg banten. Banten disebut juga Bali, Bhakti atau Upakara, mempunyai 5 fungsi:
  1. Sebagai niyasa (simbol) Hyang Widhi/ Dewa/ Bhatara-Bhatari
  2. Sebagai sarana penyucian
  3. Sebagai sarana penyaksian (saksi) untuk acara tertentu
  4. Sebagai ayaban (aturan/ persembahan, cetusan rasa bhakti)
  5. Sebagai tataban (prasadam/ berkah yang kemudian disantap setelah ngelungsur ayaban)
Besar/ kecilnya volume banten tergantung dari kemampuan riil kita. Maka disediakan sembilan alternatif volume banten sebagai berikut: mula-mula dibagi dalam 3 kelompok: alit, madya, ageng.
Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya: aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dst.
Jadi tidak benar untuk setiap upacara diharuskan dengan volume banten besar (tentunya dengan biaya tinggi). Banten adalah bagian dari upacara, dan upacara adalah salah satu wujud yadnya.
Selanjutnya yadnya dilakukan karena ada Rnam (hutang manusia kepada Widhi, Rsi dan Pitra). Maka yadnya yang baik adalah yang “satwika”. Unsur-unsur satwika antara lain bahwa upacara dilaksanakan berdasarkan hati suci yang tulus ikhlas.
Maka sekali lagi berupacaralah dengan kemampuan yang riil, agar tujuan upacara tercapai dengan baik. Nah dengan pemahaman ttg ulasan Banten tersebut, saya akan berusaha untuk hunting "penjual" banten yang harganya lebih masuk akal,esensi upacara terpenuhi dan saya pun dapat melanjutkan kehidupan sekala dan niskala secara seimbang. Astungkara.


7 komentar:

  1. kegelisahan bapak sma seperti apa yang saya rasakan sekarang 30 juta saya habiskan untuk keseluruhan biaya 3 bulanan dan abulan pitung dina yang di ambil di hari yang sama. awalnya hati kecil saya berontak menerima anggaran biaya yang semahal itu, tp saya kembali berpikir, banyak orang di desa saya yang keadaan ekonomi nya di bawah saya, toh mereka bisa mengupacarai anaknya, bahkan ada yang memiliki anak 2-3 orang, entah mereka meminjam uang atau bagiama,belum pernah saya mendengar mereka sampai jatuh miskin hanya karena menghabiskan uang untuk upacara 3 bulanan anknya. Sebulan sebelum upacara anak saya, rejeki saya meningkat pesat, pemasukan ada saja datang dari kerjaan ini itu diluar pekerjaan saya yang menjadi karyawan swasta hotel. Saya percaya masing2 anak membawa rejeki nya masing yang diberikan melalui perantara kita. tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan semua itu, asalkan bersifat yadnya saya yakin pasti akan diberikan jalan.

    BalasHapus
  2. Ya, saya pernah mendengar ada orang jual tanah untuk meyadnya.

    BalasHapus
  3. tapi yang jual tanah leluhur untuk yadnya juga banyak, krn mungkin rejekinya berbeda

    BalasHapus
  4. Siapa bilang tradisi hindu itu mahal?
    Yang mahal itu gengsi.
    Banten tiga bulanan ; sambutan, mepetik, mecolong lengkap sederhana hanya Rp.700.000 dipuput oleh 2 sulinggih ditambah ritual homa yadnya.
    suksma ida pandita... 🙏🙏Siapa bilang tradisi hindu itu mahal?
    Yang mahal itu gengsi.
    Banten tiga bulanan ; sambutan, mepetik, mecolong lengkap sederhana hanya Rp.700.000 dipuput oleh 2 sulinggih ditambah ritual homa yadnya.
    suksma ida pandita... 🙏🙏🙏

    BalasHapus
  5. Siapa bilang tradisi hindu itu mahal?
    Yang mahal itu gengsi.
    Banten tiga bulanan ; sambutan, mepetik, mecolong lengkap sederhana hanya Rp.700.000 dipuput oleh 2 sulinggih ditambah ritual homa yadnya.
    suksma ida pandita... 🙏🙏Siapa bilang tradisi hindu itu mahal?
    Yang mahal itu gengsi.
    Banten tiga bulanan ; sambutan, mepetik, mecolong lengkap sederhana hanya Rp.700.000 dipuput oleh 2 sulinggih ditambah ritual homa yadnya.
    suksma ida pandita... 🙏🙏🙏

    BalasHapus
  6. Karena, di Bali aspek adat tidak bisa diaabaikan, kadang biaya yang habis ke teben bisa menambah biaya yg cukup signifikan. Saya secara pribadi sih tidak pernah berfikir gengsi untuk upacara, tp berharap sederhana tapi bukan hanya memakai canang, dupa dan daksina saja. upakara puput, banten RASIONAL tanpa mengurangi esensi dan kearifan lokal adat dan budaya sebagai orang Hindu Bali.

    BalasHapus
  7. Yadnya yaitu tulus iklas , pilihlah sesuai kemampuan dan kebutuhan dan paling penting , tidak mengurangi makna pak dewa, sehat selalu kelurga pak dewA

    BalasHapus